27/05/2015

Gus Miek Bertemu KH. Dalhar Watucongol Gunungpring

Gus Miek Bertemu KH. Dalhar, Watucongol

Setelah menunjukkan kemampuannya kepada kedua orang tuanya, beberapa bulan kemudian Gus MIek melanjudkan studinya di Lirboyo. Di tengah-tengah penddidikannya di Lirboyo, Gus Miek justru pergi ke Watucongol Magelang, ke pondok pesantren yang diasuh KH. Dalhar yang terkenal sebagai seorang wali di Jawa Tengah.
KH. Dalhar adalah seorang di antara tiga wali yang termasyhur di Fawa Tengah. Ketiga wali itu adalah KH. Hamid, Kajoran, Magelang, sebagai wali dakwah; dan KH. Dalhar sendiri sebagai wali hakikat. Akan tetapi, sejak KH. Dalhar wafat pada 1959, menurut sebagian pendapat, posisinya digantikan KH. Mangli, Muntilan, Magelang.
Awal kedatangannya di Watucongol pada 1954, Gus Miek tidak langsung mendaftarkan diri menjadi santri, tetapi hanya memancing di kolam pondok yang dijadikan tempat pemandian. Hal itu sering dilakukannya pada setiap datang di Watucongol kebiasaannya memancing tanpa memakai umpan, terutama di kolam tempat para santri mandi dan mencuci pakean, membuat Gus Miek terlihat seperti orang gila bagi orang yang belum mengenalnya. Setelah beberapa bulan dengan hanya dating dan memancing di kolam pemandian, ia lalu menemui KH. Dalhar dan meminta izin untuk belajar.
“Kiai, saya ingin ikut belajar kepada kiai,” kata Gus Miek ketika itu.
“Belajar apa tho, Gus, kok kepada saya,” tanya KH. Dalhar.
“Saya ingin belajar Al Qur’an dan Kelak ingin saya sebarkan,” jawab Gus Miek dengan mantap.
KH. Dalhar akhirnya mau menerima Gus Miek sebagai muridnya, khusus untuk belajar Al Qur’an. Akan tetapi, Gus Miek tidak hanya sampai di situ saja, ia berulang kali juga meminta berbagai ijsah amalan untuk menggapai cita-cita, tanggung jawab, dan ketenangan hidupnya. Seolah ingin menguras habis semua ilmu yang ada pada KH. Dalhar, terutama dalam hal kepasitas KH. Dalhar sebagai seorang wali, mursyid tarekat, dan pengajar Al Qur’an. Gus Miek juga seolah ingin mempelajari bagaimana seharusnya menjadi seorang wali, apa saja yang harus dipenuhi sebagai seorang mursyid, dan seorang pengajar Al Qur’an.
Setiap kali Gus Miek meminta tambahan ilmu, KH. Dalhar selalu menyuruh dia membaca Al Fatehah. Apa pun bentuk permintaan Gus Miek, KH. Dalhar selalu menyuruhnya mengamalkan Al Fatehah.
Barangkali karena ajaran KH. Dalhar sersebut, Gus Miek banyak memberikan ijasah bacaan Al Fatehah kepada para pengikutnya untuk segala urusan. Bahkan apabila ingin berhubungan dengan Gus Miek, cukup dengan membacakan Al Fatehah saja. Dan, bias jadi inilah yang mengilhami Gus Miek (di samping ijasah yang diberikan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang disampaikan kepada adiknya) menerapkan ajaran sejumlah bacaan Al Fatihah dalam kegiatan wirid Lailiyah yang didirikannya pada tahun 1961, yang kemudian berkembang menjadi Dzikrul Ghofilin pada 1973..
KH. Dalhar,bagi Gus Miek, adalah satu-satunya orang yang dianggap sebagai guru dunia dan akhirat. Oleh karena itu, selama berada di Watucongol, Gus Miek dengan telaten selalu membersihkan terompah KH. Dalhar, dan menatanya untuk lebih mudah dipakai ketika KH. Dalhar naik ke masjid. Menurut Gus Miek, hal itu dilakukan sebagai upayanya untuk belajar istiqamah. Sebab istiqamah, menurut ajaran KH. Djazuli, ayahnya, adalah lebih utama dari 1000 karomah. Oleh karena itu, dalam rangka melatih keistiqamahannya, Gus Miek memulai dengan istiqamah membersihkan dan menata terompah KH. Dalhar gurunya.
Pernah, di suatu hari, Gus Miek menemukan trompah KH. Dalhar yang biasanya ada di depan kamar ada dua buah yang sama persis baik ukuran maupun bentuknya sehingga ia tidak bias membedakannya. Bungkul (tangkai tempat menjepit antara jari kaki) terompah KH. Dalhar terbuat dari emas, terompah yang satu juga sama. Akhirnya, ia membersihkan dan menata keduanya sambil menunggu siapakah tamu gurunya itu. Sekian lama ia menunggu sampai terkantuk-kantuk, tetapi terompah itu tetap dua buah jumlahnya. Ketika sesaat ia terlena, terompah itu tinggal satu. Ia terkejut, kemudian berlari jauh keluar pondok untuk melihat tamu tersebut sepanjang jalan sehingga nafasnya tersengal-sengal. Tetapi, jalan tampak sepi dan tidak ada seorang pun terlihat melintas. Padahal, menurut perkiraan Gus Miek, orang tua yang berjalan memakai terompah itu pasti belum jauh dan seharusnya sudah terkejar atau justru berada jauh di belakangnya.
Esok harinya, Gus Miek menemui KH. Dalhar yang baru turun dari masjid memimpin jama’ah shalat Zuhur, sesampai di kamarnya Gus Miek bertanya: “Maaf, Guru, tamu Guru tadi malam itu siapa?”
KH. Dalhar tidak menjawab, sementara Gus Miek tidak mau beranjak sebelum mendapatkan jawaban. Gus Miek tatap duduk menunggu jawaban dari KH. Dalhar. Ketika KH. Dalhar beranjak ke masjid untuk mengimami shalat Ashar, ia mengikutinya untuk menata terompah KH. Dalhar. Dan, ketika KH. Dalhar kembali ke kamar, Gus Miek pun kembali mengikutinya dan duduk di depan kamar untuk menunggu jawaban. Demikian juga ketika saat tiba waktu shalat Maghrib dan Isya. Sehingga, baru ketika sesudah Isya, KH. Dalhar menyuruh pembantunya memberi tahu bahwa tamunya semalam adalah Nabi Khidir. Setelah mendapatkan jawaban itu, barulah ia mau beranjak dari tempat duduknya. Menurut keterangan Nyai Dalhar, dari sekian banyak santri KH. Dalhar, hanya Gus Miek yang berani dan diizinkan masuk ke kamar KH. Dalhar.
Kegiatan Gus Miek di Watucongol selain mengaji Al Qur’an, Gus Miek juga tetap sering bepergian ke pasar-pasr, tempat hiburan, dn mengadu ayam jago. Kebiasaan ini membuat Gus Miek sering harus berhadapan dengan Gus Mad, putra KH. Dalhar, yang kebetulan saat itu memegang tanggung jawab sebagai keamanan pondok karena Gus Miek dianggap sering tidak disiplin. Sedangkan santri yang sering menemani Gus Miek saat di Watucongol adalah Bakri (KH.Bakri), kini pengasuh Pesantren Al Qur’an, Jampiroso, Kacangan, Boyolali.
Pernah Gus Miek menyuruh beberapa gus di Kediri agar buru-buru mondok di tempat KH. Dalhar karena dia akan meninggal. Semua berbondong ke tempat KH. Dalhar. Saat itu, Gus Miek menyatakan bahwa KH. Dalhar akan meninggal sekitar 23 Ramadhan 1959, begitu semua datang ke Watucongol, ternyata KH. Dalhar masih sehat. Tercatat di antara orang-orang yang pergi ke Watucongol adalah KH. Mubasyir Mundzir dan Gus Fu’ad (adik Gus Miek).
Pernah KH. Djazuli menugaskan Gus Nurul Huda untuk datang ke Watucongol mewakili KH. Djzuli untuk menyerahkan adik-adiknya yang mondok ke Watucongol. Di Watucongol, Gus Huda di samping menyerahkan adik-adiknya kepada KH. Dalhar sebagaimana amanat KH. Djazuli, juga meminta maaf bila bila adiknya, Gus Miek, banyak melakukan kekeliruan di Watucongol. Tetapi, jawab KH. Dalhar waktu itu justru sangat mengejutkan Gus Huda, “Gus Miek itu difatihahi mental,” jawab KH. Dalhar. Gus Huda hanya tersenyum karena dia sudah paham akan adiknya yang satu itu.
Dalam versi yang lain diceritakan bahwa bukan Gus Huda yang menyerahkan Gus Miek, tetapi kebalikannya. Saat itu, Gus Huda dan Gus Fua’ad disuruh KH. Djazuli agar mondok ke KH. Dalhar. Saat hendak berangkat, Gus Miek masih duduk di teras dengan hanya memakai celana pendek.
“Mau ke mana, Mas Dah?” tanya Gus Miek.
“Aku disuruh bapak mondok ke Jawa Tengah dengan Fu’ad,” jawab Gus Huda.
Keduanya kemudian berangkat dengan naik kereta api. Sesampainya di Watucongol, ternyata Gus Miek sudah berada di teras pondok dengan pakaian masih seperti tadi pagi ketika di kediri.
“Kenapa di sini?” tanya Gus Huda yang sudah mengenal kelebihan adiknya.
“Mengantar kalian kepada Kiai Dalhar,” jawab Gus Miek.
“Aku tidak mau kalau pakaianmu seperti itu,” jawab Gus Huda sambil memberikan pakaiannya ke pada Gus Miek untuk berganti pakaian.
Mereka bertiga kemudian sowan. Setelah sowan, Gus Miek mengantarkan memilih kamar dan setelah itu hilang entah ke mana dengan meninggalkan pakaian Gus Huda.
Akhirnya, semua memburu Gus Miek karena dianggap telah berbohong perihal kematian KH. Dalhar. Tetapi semua menjadi terdiam ketika 25 Ramadhan 1959, KH. Dalhar benar-benar meninggal dunia.
From : Dzikrulghofilinboja.blogspot.com

Makam Mbah Lerik : Tumenggung Kerto Waseso

Makam kuna yang terdapat di Desa Dempel Kecamatan Kalibawang selama ini dikunjungi banyak peziarah. Tidak terbatas orang-orang Wonosobo maupun kota di Jateng. Tak sedikit pengunjung dari Banjarmasin dan Lampung yang datang. Konon yang disemayamkan adalah tokoh terkenal bernama Tumenggung Kerto Waseso atau disebut juga Mbah Lerik.
Seperti halnya tokoh-tokoh sakti masa lampau, Tumenggung Kerto Waseso juga seorang pejuang pada zaman Pangeran Diponegoro. Menurut warga setempat, ia masih keturunan bangsawan Keraton Jogja. Semasa perang melawan penjajah Belanda, Mbah Lerik bergerilya hingga ke Wonosobo.
Kemudian membuka perkampungan di Desa Dempel. Tokoh ini cukup disegani karena kesaktiannya yang luar biasa. Sampai meninggal pun, makamnya banyak diziarahi orang. Sebagai tempat yang dianggap mujarab untuk berdoa agar hajatnya terkabul.
Salah satu tokoh masyarakat setempat Muhrozi mengatakan, sejak dulu makam Mbah Lerik tak pernah sepi peziarah. Hampir tiap hari mereka datang, berdoa memohonkan apa yang menjadi keinginannya. “Selain dari Jawa Tengah, Jawa Timur ada juga yang dari luar Jawa. Kadang ziarahnya sampai berhari-hari. Di makam, mereka mengaji, membaca tahlil dan memanjatkan doa,”ujarnya didamping anaknya Mahfudz.
Sepengetahuan Muhrozi tidak ada keanehan berasal dari makam. Hanya saja, kalau doa hampir terkabul, muncul godaan-godaan. Dan itu hanya dirasakan oleh yang bersangkutan. Peziarah lebih suka datang pada malam hari. Lebih sunyi, doa lebih khusuk dan terasa dekat dengan Maha Pencipta, begitu katanya.
Makam Mbah Lerik terletak di dekat kompleks kuburan desa. Namun agak terpisah dari makam lain. Bangunan makam berupa papan kayu sederhana. Warga setempat yang membangun cungkupnya. Jalan menuju makam tidak terlalu lebar berupa semen.
Di sebelah makam, berupa tanah kosong yang rencananya akan dibangun semacam peristirahatan untuk para peziarah. Mereka dapat menginap di situ, memasak maupun mengurus keperluan sehari-hari. Tidak sedikit yang menginap beberapa hari di makam. Bahkan pernah ada peziarah hampir sebulan penuh berada di makam pada bulan puasa lalu.
Warga setempat semula tidak menaruh curiga dengan kehadiran orang yang identitasnya tak diketahui secara pasti tersebut. Kepada warga mengaku datang sendirian, anehnya kalau malam hari ada orang yang datang. Masyarakat semakin curiga, setiap kali pergi ke pasar atau membeli keperluan ke luar desa, mengenakan pakaian biasa dan selalu bertopi. Padahal sehari-hari selama berada di makam, mengenakan surban. Apalagi waktu itu, terdengar santer adanya teroris, akhirnya warga memutuskan bertindak. Sebelum dilakukan, pria itu sudah kabur.
“Orang-orang dari Jawa Timur kalau berziarah sampai berhari-hari. Mengaji dan berdoa di makam. Diharapkan dengan adanya semacam fasilitas beristirahat ini mereka akan lebih nyaman di sini,”tambah Mahfudz.
Menjelang pilihan kepala desa, banyak para calon kades yang berziarah. Bahkan para calon bupati pun tidak melewatkan diri mengunjungi makam. Ditegaskan Muhrozi, para peziarah dilarang untuk menyembah atau memohon pada makam. Berziarah hanya sebagai sarana. Tentu saja permohonan ditujukan pada Sang Pencipta.
Potongan Rambut Timbulkan Gempa
Kesaktian Mbah Lerik sangat dikenal seantero Wonosobo kala itu. Disebut Lerik, karena begitu lahir kulitnya seperti bayi. Tetapi layaknya kulit anak 10 tahun. Menurut cerita, saat masih bermukim di Keraton Jogjakarta, kesaktian Mbah Lerik diujicoba. Dia diminta bertempur dengan 7 orang prajurit seorang diri. Dengan segala kesaktiannya, 7 prajurit bertekuk lutut.
Seluruh badannya mengandung tuah kesaktian. Ia memiliki rambut panjang terurai dan konon berkuku sepanjang 2 meter. “Rambutnya tidak mempan oleh gunting atau senjata tajam. Sehingga terus memanjang terurai. Dan tidak ada yang berani memotongnya,”ungkap Muhrozi.
Masih menurut cerita Muhrozi, suatu kali, Mbah Lerik diminta datang ke Kramatan, Magelang ke rumah salah satu anaknya. Rambut dan kuku Mbah Lerik akan dipotong. Dengan segala daya upaya rambut dan kukunya dapat dipangkas. Begitu potongan rambut jatuh ke tanah, menimbulkan gempa bumi 3 hari berturut-turut tanpa henti. Begitu juga saat potongan kukunya jatuh, terdengar seperti bunyi linggis jatuh ke lantai semen, bergerincing sangat keras. Potongan rambut dan kuku ini dikubur di Kramatan, Magelang.
Itu salah satu gambaran betapa sakti mandraguna Mbah Lerik. Ilmu tinggi dan budi pekerti luhur yang membuatnya disegani. Setelah membuka pedesaan Dempel, Mbah Lerik diangkat menjadi sesepuh. Ia memiliki 14 anak. Sepuluh anak laki-laki dan 4 perempuan. Bahkan sampai sekarang, anak keturunannya masih hidup di luar Kota Wonosobo.
Dikatakan Muhrozin, sebelum dirinya yang sering disebut juru kunci makam adalah mendiang ayahnya, Abdul Rauf. Dulu setiap peziarah harus melalui juru kunci. Sekarang, kata dia, terserah pendatang. Bisa langsung berziarah ke makam atau juga melalui dirinya.
Untuk menelusuri secara pasti silsilah Mbah Lerik cukup sulit. Menurut Untung, salah satu warga setempat, harus melakukan semedi dan mengendapkan pikiran. Itupun tak hanya sekali atau dua kali. Sebab, harus melakukan kontak batin dengan mendiang.
Dia sendiri ketika dimintai keterangan tentang Tumenggung Kerto Waseso ini agak keberatan. “Sebenarnya harus meminta izin terlebih dulu kepada Mbah Buyut (Kyai Lerik, red). Tanpa seizin beliau saya tidak berani,”cetusnya.
Ketika ditanya kenapa Tumenggung Kerto Waseso dijuluki Mbah Lerik, Untung berdiam diri sebentar. Lantas meminta maaf tidak bisa menjelaskan lebih detil. Ia tak dizinkan untuk memberi keterangan lebih rinci. Pria ini mengaku sekarang tengah dihukum selama 10 tahun oleh Mbah Lerik, tidak dizinkan keluar dari desa. Sekarang hukuman tinggal setahun lagi. Selama itu pula, hanya di rumah bertani. Tidak berani pergi ke desa lain maupun turun ke kota.
Apabila makam Mbah Lerik akan dibangun agar lebih representatif untuk peziarah, kata Untung juga harus meminta izin. Dia tidak berani melanggar apapun yang telah menjadi kehendak sesepuh desa itu. (Sumber:lis Jawa Pos)


Download RISALAH AMALIYAH NAHDLIYAH

Risalah kecil ini disusun oleh tiga lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama yaitu LAKPESDAM, Lembaga Bahtsul Masail dan Rabithah Maahidil Islam Kota Malang dalam rangka Harlah NU ke-82.
Diantara kegiatan-kegiatan yang diadakan pengurus NU Kota Malang, PC NU Kota Malang berupaya menerbitkan risalah ini agar dijadikan pegangan dan bekal bagi para jamaahnya.
Risalah ini memuat berbagai dalil amaliah yang selama ini sudah dilaksanakan ditengah-tengah kehidupan social sehari-hari. Para Ulama dahulu dengan segala kearifannya, lebih menekankan amal dari ilmu dari setiap amaliah sehari-hari. Ketika zaman telah berubah dimana gempuran kaum wahabi bertubi-tubi dari berbagai penjuru, mereka meracuni nahdliyin dengan berbagai pernyataan bahwa setiap amaliah yang telah dilakukan orang NU tidak berdasar dan bid’ah. Bahkan di daerah Jawa Tengah kelompok Wahabi dengan menggunakan baju Majelis Qiraah al Quran, membayar beberapa stasiun radio agar mempropagandakan bahwa amaliyah NU itu sesat dan bid’ah setiap pagi dan sore. Apa yang dilakukan PCNU Kota Malang ini harus disambut baik, ditindaklanjuti dan disebarluaskan ke berbagai kalangan Nahdliyin agar mereka tidak goyah dengan amaliyahnya sehari-hari.
Untuk mempermudah cara baca, sengaja risalah ini dibuat dengan sistem tanya.
untuk selengkapnya bisa anda download di sini Download

Download Ratib Al-Haddad Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama dari nama penyusunnya, yaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).
Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah untuk membentengi dengan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.
Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, yaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Mesjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.
Beberapa perbedaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan barangsiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Amin.
Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai[1]. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.
Keutamaan Ratib Hadad. (1)
Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya: Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat. Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi ketika mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ. Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Alloh SWT karena berkat membaca Ratib ini.
Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Alloh mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.” Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka dibajak oleh gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.
Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan. Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.
Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tidak berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkah membaca Ratib ini.
Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Alloh SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami. Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.
Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu. Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.” Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri. Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.
Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.
Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi apa-apa pun.”
Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya’, kami tidak membaca Ratib dan tidak bersembahyang Isya’, semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tidak sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar.
Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”
Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.” Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.”
( Az-Zukhruf: 36 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhannya, Kami akan menurukannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)
(1) Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa Dan Komentar – karangan Syed Ahmad Smith, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd

untuk Download Rotib Al Haddad klik di sini

Biografi Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

Syekh Kabbani adalah salah satu dari ulama-ulama dunia ternama dalam sejarah Islam dan ilmu spiritual Sufisme. Sebagai deputi dari mursyid Tarekat Naqsybandi Haqqani, Syekh Kabbani juga merupakan pembimbing dan guru bagi sekitar 2 juta Muslim di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, Inggris dan Asia Tenggara.

Pendidikan
· Sarjana Kimia dari American University of Beirut, Lebanon.
· Studi Kedokteran di Louvain, Belgia.
· Gelar dalam Syariah Islam, Damaskus, Suriah.
· Ijazah untuk mengajar, membimbing dan memberi nasihat kepada murid-murid dalam spiritualitas Islam dari Syekh Muhammad Nazim Adil yang ternama, pemegang otoritas Mazhab Fiqh Hanafi di Timur Tengah dan pemimpin dunia dari Tarekat Naqsybandi Haqqani.

Posisi Sekarang
· Ketua, Islamic Supreme Council of America
· Ketua, Naqshbandi Haqqani Sufi Order of America
· Ketua, As-Sunnah Foundation of America
· Pendiri, Sufi Muslim Council UK dan Center for Spirituality and Cultural Advancement UK

Pencapaian Terkini
Maret 2010
Melaksanakan perjalanan ke Ghana, Pantai Gading dan Kenya untuk bertemu dengan para ulama dan tokoh masyarakat membicarakan tentang pelestarian kebudayaan tradisional Muslim; dan bertemu dengan presiden Pantai Gading, Yang Terhormat Laurent Gbagbo, dan Perdana Menteri Kenya, Yang Terhormat Raila Amolo Odinga untuk membahasa tentang kebangkitan radikalisme Islam di Afrika dan penghancuran budaya kuno Muslim.
Februari 2010
Mendirikan badan amal yang terdaftar di Inggris dan pada saat peluncurannya mengundang Yang Mulia Pangeran Charles untuk menghadiri acara bertema “Spirituality in Action”
Juni 2009
Bertemu dengan pemimpin oposisi Australia, Malcolm Turnbull, dan pejabat pemerintah lainnya.
Mei 2009
Memperingati Maulid Nabi Muhammad (saw) bersama Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri sekitar 250.000 jemaah di Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara.
April 2009
Memperingati Maulid Nabi Muhammad (saw) di the House of Commons, Majelis Rendah dalam Parlemen Kerajaan Inggris. Dihadiri oleh Rt. Hon. Hazel Anne Blears, Menteri Sekretaris Negara dan Rt. Hon. Jacqui Smith, Menteri Dalam Negeri.
November 2008
Bertemu Perdana Menteri Sri Lanka, Yang Terhormat Rathnasiri Wickramanayake, untuk membahas bagaimana dan bantuan apa yang diperlukan oleh umat Muslim terkait dengan situasi terkini di Sri Lanka.
November 2008
Bertemu Presiden Sri Lanka, Yang Terhormat Mahinda Rajapakse, untuk menyampaikan pandangan tentang Terorisme dan bagaimana membangun perdamaian di Sri Lanka.
Maret 2008
Tamu kehormatan dalam acara pembukaan interfaith house of worship pertama di Los Angeles, California
Maret 2008
Penyelenggara Road Show Pencegahan Ekstrimisme yang kedua di Britania Raya.
Desember 2007
Penyelenggara Road Show Pencegahan Ekstrimisme yang pertama di Britania Raya.
Agustus 2007
Menjadi tamu pribadi bagi Kolonel Qaddafi di Libya untuk membicarakan bagaimana membatasi ancaman radikalisme Islam.
Juni 2006
Bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Charles untuk berdiskusi tentang pentingnya Sufisme dalam Islam dan mempromosikan spiritualitas universal yang ada di antara seluruh manusia.
Mei 2006
Pembicara utama dalam Simposium Sufi Internasional yang diselenggarakan di San Jose, California.
Maret 2006
Bertemu dengan staf dari Perdana Menteri Inggris Tony Blair, untuk mengemukakan pandangan-pandangan beliau pada situasi Islam di Inggris dan Eropa.
Februari 2006
Bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Richard Cheney untuk mengemukakan pandangan-pandangan beliau pada penanganan Islam radikal.
Februari 2006
Bertemu dengan Ms. Fran Townshend, Asisten Presiden Amerika Serikat untuk Homeland Security (Keamanan Negara) dan wakilnya Mr. Juan Zarate juga untuk mendiskusikan tentang penanganan radikalisme dalam Islam dan menanggapi soal “kontroversi kartun”.
Juli 2005 dan Januari 2006
Mengadakan pertemuan-pertemuan pribadi dengan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memperkuat proyek-proyek bersama secara berkesinambungan pada “Rehabilitasi Jihad” bagi kaum muda Indonesia.
April 2005
Bertemu dengan Sekretaris Luar Negeri Inggris Jack Straw untuk mendiskusikan situasi Islam terkini di Eropa.
Maret 2005
Hadir dalam Konferensi White House Faith-Based and Community Initiatives Leadership dan bertemu dengan Presiden Bush di meja bundar pemrakarsa.
Desember 2004
Ketua Undangan dan Pembicara dalam seminar ”Global Challenges in Islam” (Tantangan Global dalam Islam) di Singapura. Lebih dari 3 hari beliau bicara dalam 3 forum agama yang berbeda. Bertemu dengan Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), Menteri Negara Urusan Luar Negeri dan Menteri Negara untuk Pendidikan. Bertemu dengan Rohan Gunaratna, Kepala Pusat Penelitian Internasional untuk Kekerasan Politik dan Terorisme, untuk mendiskusikan metode-metode mempromosikan Islam tradisional dan membatu tindakan ”pemulihan” akibat terorisme.
Desember 2004
Pembicara utama dan tuan rumah Konferensi Internasional para Ulama dan Aktivis di Jakarta, Indonesia mengusung tema “Islam and Civil Society in the 21st Century: A Path to Transformation” (Islam dan Masyarakat di Abad ke-21: Sebuah Jalan menuju Perubahan) merujuk pada topik “Principles of Leadership in War and Peace” (Prinsip-prinsip Kepemimpinan pada Saat Perang dan Perdamaian) diperinci dengan tindakan pelanggaran undang-undang oleh terorisme dan larangan melakukan bunuh diri sebagai suatu cara jihad dalam Islam. Memberikan khotbah Jumat di 2 masjid terbesar di Jakarta (Masjid Baitul Ihsan dan Masjid Istiqlal) dan menjadi tuan rumah selama konferensi. Dihadiri oleh Rektor University of Malaya dan Putra Mahkota Negara Bagian Perak-Malaysia Yang Mulia Raja Muda Nazrin Azlan Shah, Menteri Pendidikan Malaysia Dato Hisyamuddin Tun Hussein, Menteri Urusan Perempuan, Keluarga dan Pengembangan Masyarakat Malaysia Dato Seri Shahrizat Abdul Jalil, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Lembaga Non Pemerintah terbesar di Indonesia, K.H. Hasyim Muzadi, Duta besar Amerika Serikat B. Lynn Pascoe dan para pejabat lainnya.
Desember 2004
Bertemu dengan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla di kediamannya di Jakarta untuk mendiskusikan topik-topik kenegaraan.
November 2004
Tamu Presiden Bush di Gedung Putih dalam acara Makan Malam Ramadan Tahunan.
Agustus 2004
Menghadiri Konferensi Sidi Shekir dengan tema ”Importance of Spirituality in Human Affairs” (Pentingnya Spiritualitas pada Manusia) di Marrakech-Maroko di bawah perlindungan Yang Mulia Raja Mohamad VI dan Menteri Urusan Agama.
Juni 2004
Pembicara utama pada konferensi tahunan kedua Islamic Educational and Cultural Research Center (IECRC) di Kalifornia bagian utara.
Juni 2004
Bertemu dengan Presiden Afganistan Yang Mulia Hamid Karzai dan memberikan undangan konferensi para pemimpin Islam yang akan diselenggarakan di Indonesia pada musim dingin tahun 2004.
Mei 2004
Pembicara utama pada Universal Muslim Association of America di Washington, DC. Topik: “Extrimism is Inconsistent with Islam” (Ekstrimisme Bertentangan dengan Islam).
Mei 2004
Pembicara utama pada Islamic Studies and Research of Association di Columbia-Carolina Selatan. Topik: “Classical Islam: Religion of Mercy” (Islam Klasik: Agama yang penuh rahmat).
Mei 2004
Pembicara utama pada konferensi keagamaan internasional di Indonesia. Bertemu dengan kandidat-kandidat wakil presiden Indonesia. Di Malaysia bertemu dengan Menteri Pendidikan Yang Mulia Tun Hishamuddin Hussein dan Putra Mahkota Negara Bagian Perak Yang Mulia Raja Muda bin Azlan Shah.
April 2004
Pembicara utama pada konferensi “Beyond Radical Islam?” yang diselenggarakan oleh Forum LeFrak dan Simposium “Science, Reason, and Modern Democracy” di Universitas negara bagian Michigan dan the Ethics and Public Policy Center di Washington, DC.
Februari 2004
Memimpin delegasi internasional ke Thailand, Indonesia dan Malaysia. Di Thailand, menyajikan sebuah makalah di Forum Kepemimpinan Thailand, mengunjungi makam-makam umat Budha dan bertemu para pemimpin keagamaan; melaksanakan Zikir Akbar bersama 140.000 orang murid di Masjid Istiqlal, Indonesia; bertemu secara pribadi dengan Perdana Menteri Malaysia Yang Mulia Dato Seri Abdullah Badawi.
Januari 2004
Bertemu dengan Perdana Menteri Turki Yang Mulia Recep Tayyib Erdogan untuk berdiskusi tentang membangun dialog lintas agama antara para akademisi Amerika Serikat dan kaum ulama dan perwakilan dari Turki yang setara.
Januari 2004
Pembicara utama pada rapat tahunan dewan pengurus American Foreign Policy Coucil (Dewan Kebijaksanaan Luar Negeri Amerika)
Desember 2003
Mewakili umat Muslim Amerika Serikat dalam konferensi internasional lintas agama bagi para pemimpin agama selama 3 hari di Spanyol.
Oktober 2003
Ikut serta dengan Presiden George W. Bush dalam Iftar (buka puasa) di Gedung Putih. Menyampaikan pidato utama pada konferensi di Nixon Center yang bertema ”Sufism and U.S. Policy” (Sufisme dan Kebijaksanaan Amerika Serikat).
Juli dan Oktober 2003
Memimpin 2 delegasi internasional ke Indonesia dan Malaysia untuk bertemu dengan pemerintah dan para pemimpin agama sebagai bagian dari kampanye menentang keekstriman dalam beragama; memberikan ceramah di hadapan lebih dari 100.000 orang Muslim di Masjid Istiqlal Indonesia, menyerukan toleransi beragama, dan membuka sebuah institut baru yang didedikasikan bagi pengajaran Islam klasik.
Mei 2003
Memberikan pidato pada Conference on Islam and America, disponsori oleh the Ethics and Public Policy Center di Washington, DC.
Mei 2003
Memberikan pidato pada konferensi bagi para pendeta tentara di penjara federal yang disponsori oleh U.S. Bureau of Prisons (Biro Penjara Amerika Serikat) di Ann Harbor-Michigan; memperingatkan sikap berbahaya dari para ekstrimis dalam sistem-sistem koreksi federal.
Januari-Februari 2003
Bepergian melintasi wilayah Amerika Serikat untuk menghadiri rapat-rapat koalisi pergerakkan dan kelompok-kelompok pengamat komunitas masyarakat untuk mengantisipasi munculnya gerakan keagamaan ekstrim dan untuk mempromosikan Islam tradisional.
November 2002
Bertemu dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan berturut-turut dengan Sekretaris Negara Colin Powell di Gedung Putih dan Departement of State dalam rangka acara bulan Ramadan.
September 2002
Bertemu dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush untuk acara resmi presiden Proclamation of the Days of Remembrance and Prayers yang digelar tanggal 6-9 September 2002.
Agustus 2002
Diundang sebagai tamu Presiden Uzbekistan Islam Karimov untuk berkunjung ke republik tersebut dan mengeksplorasi topik-topik pembangunan yang berkenaan dengan pendidikan keagamaan.
Juli 2002
Menyajikan sebuah makalah berjudul “Understanding Sharia” (Memahami Syariah) pada konferensi Freedom House di Washington, DC. dan sebuah makalah pada “Islam and Democracy” (Islam dan Demokrasi) untuk the Ethics and Public Policy Center.
Maret 2002
Bertemu dengan Asisten Sekretaris Pertahanan Mr. Paul Wolfowitz beserta staf untuk memperkenalkan aktivitas ISCA (Islamic Supreme Council of America) termasuk mempromosikan Islam moderat ke seluruh dunia.
Maret 2002
Menjadi pembicara tamu pada American Society for Industrial Security pada topik “Traditional Islam in the U.S.” (Islam Tradisional di Amerika Serikat).
Februari 2002
Menandatangani Memorandum of Understanding (Memo Kesepahaman) dengan Menteri Negara Indonesia pada pembangunan infrastruktur lembaga sipil dan mempromosikan Islam tradisional.
Februari 2002
Bertemu dengan Deputi Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Pemuda untuk Malaysia untuk mendiskusikan isu-isu yang sedang dihadapi kaum Muslim setelah peristiwa 11 September.
September 2001
Memberikan pertimbangan kepada banyak agen pemerintahan tentang topik-topik jaminan keamanan nasional karena hal itu berhubungan dengan pemberontak radikal atas nama agama baik di dalam maupun di luar negeri.
Mei 2001
Memimpin ISCA Asian Tour ke Malaysia, Singapura, Indonesia, Sri Langka, Pakistan dan Jepang.
April 2001
Memimpin 100 orang anggota delegasi ke Republik Uzbekistan sebagai tamu Presiden Uzbekistan.
Januari 2001
Tamu Kehormatan dalam Rapat Tahunan National Committee of America Foreign Policy (Komite Nasional Amerika untuk Undang-undang Luar Negeri)
September 2000
Sebagai utusan dalam konferensi UNESCO pada dialog lintas agama di Uzbekistan.
Agustus 2000
Bertemu dengan Yang Mulia Presiden Islam Uzbekistan Karimov.
April 2000
Pembicara utama di Central Asia-Caucasus Institute (CACI) konferensi Universitas Johns Hopkins dengan tema The Emergence of Religious Extremism in Central Asia and the Caucasus (Timbulnya Ekstrimisme Beragama di Central Asia dan Kaukasus).
Maret 2000
Bertemu dengan Yang Mulia Presiden Denktash dan Menteri Luar Negeri Siprus.
Januari 2000
Bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada suatu acara di Gedung Putih dalam menghormati bulan Ramadan.
November 2000
Ikut serta dalam wakil U.S. Congressional (Perwakilan Rakyat Amerika Serikat) dalam menghasilkan dukungan nasional untuk menandai bulan suci umat Islam, yaitu Ramadan secara resmi.
1 Februari 1999
Ditunjuk sebagai perwakilan pemeluk Islam pada konferensi Wakil Presiden Al Gore yang bertema “Corruption in Government” (Korupsi dalam Pemerintahan).
7 Januari 1999
Pembicara utama pada forum terbuka “Islamic Extremism” (Ekstrimisme Islam) di Departemen Dalam Negri Amerika Serikat.
7 Januari 1999
Pembicara utama pada forum “The Evolution of Wahhabism” (Evolusi Wahhabisme) di Universitas Johns Hopkins, Central Asia - Caucasus Institute.
7-9 Agustus 1998
Ketua 2nd International Islamic Unity Conference (Konferensi Internasional Kedua Persatuan Islami) di Washington, DC.
Pencapaian Utama
· Mendirikan 23 Zawiyah sebagai pusat kegiatan untuk mempelajari ajaran Sufi di Amerika dan Kanada.
· Mendirikan Islamic Supreme Council of America, sebagai organisasi keagamaan yang didedikasikan untuk menyebarluaskan materi yang bersifat informatif mengenai Islam dan mempresentasikan pandangan Islami yang autentik dari para ulama mengenai urusan-urusan duniawi.
· Mendirikan As-Sunna Foundation of America untuk mengembangkan, menerbitkan publikasi Islam klasik, dan menyelenggarakan konferensi untuk menyediakan pendidikan Islam klasik.
· Bekerja dengan erat bersama pemerintah dan masyarakat di Malaysia, Indonesia, dan Singapura untuk mengembalikan praktik-praktik Sufi tradisional dan mencegah meningkatnya kaum radikal dalam agama di daerah terkait.
· Menjadi ketua dalam konferensi International Islamic Unity Conference, konferensi kedua ini berlangsung dengan sangat sukses di Washington, DC antara 7-9 Agustus 1998.

Publikasi
Buku
· Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Tradition, 840 halaman. Memaparkan secara detail tentang tradisi Tarekat Sufi Naqsybandi dari Islam klasik.
· The Approach of Armageddon? An Islamic Perspective, 294 halaman. Memaparkan tentang perspektif Islam mengenai ilmu dan teknologi dan prediksi kenabian mengenai akhir zaman dan Hari Perhitungan.
· Encyclopedia of Islamic Doctrine – Merupakan hasil penelitan dan penulisan selama 5 tahun, 1500 halaman, 7-volume, masing-masing mendeskripsikan akidah Islam menurut pendekatan klasik dari mazhab yurisprudensi utama dan akidah Islam.
· Angels Unveiled – pandangan modern tentang subjek tradisional.
Artikel
(judul-judul lain juga tersedia di website www.islamicsupremecouncil.org)
· Understanding Sharia - Islamic Law from the classical Islamic perspective (Memahami Syariah—Hukum Islam dari perspektif Islam klasik)
· Islam & Democracy (Islam dan Demokrasi)
· Jihad: A Misunderstood Concept from Islam (Jihad: Konsep Islam yang Salah Dipahami)

Kantor
Fenton, MI
17195 Silver Parkway, #201
Fenton, MI 48430
Tel: (888) 278-66243
Fax: (810) 222-2885
Email: ishaq@sunnah.org Contact: Ishaq Bohjelian




dari berbagai sumber

Download Jadwal Imsakiyah 2015

Download Jadwal Imsakiyah tahun 2015 di sini

anda mencari contoh Undangan, Banner Tasyakuran Aqiqah terbaru silahkan klik link pada gambar untuk mendownload.