A.
PENDAHULUAN
Ketokohan
KH.. Hasyim Asyari seringkali diceburkan dalam persoalan sosial politik,hal ini
dapat dipahami bahwa sebagian dari sejarah kehidupan KH. Hasyim Asyari memang dihabiskan untuk merebut kedaulatan bangsa
Indonesia melawan hegemoni kolonial Belanda dan Jepang. Lebih-lebih organisasi
yang didirikannya, Nahdlatul Ulama (NU) pada masa itu cukup aktif dalam bidang
sosial politik. Akan
tetapi KH.. Hasyim Asyari sejatinya merupakan tokoh yang piawai dalam gerakan
dan pemikiran kependidikan.
KH.. Hasyim Asy’ari bisa dikategorikan sebagai generasi awal yang
mengembangkan sistem pendidikan pesantren terutama di Jawa.[1]
KH..
Hasyim Asyari dilahirkan pada 14 Februari 1871 di pesantren Gedang desa
Tambakrejo sekitar 2 kilometer ke arah utara kota Jombang, Jawa Timur. Pada
usia 13 tahun beliau sudah bisa membantu ayahnya mengajar
santri-santri yang lebih senior[2].
Riwayat pendidikannya disamping belajar kepada ayah handanya Kiai Asy’ari dan kakeknya Kiai Usman, setelah usia 15
tahun nyantri di pesantren Wonorejo, Jombang lalu di pesantren Wonokoyo,
Probolinggo dilanjutkan ke pesantren Langitan dan pesantren Trenggilis. Belum
puas di pesantren tersebut, KH. Hasyim
Asy’ari melanjutkan menuntut ilmu ke pesantren Kademangan, Madura dibawah asuhan KH. Chalil dan di pesantren
Siwalan, Sidoarjo selama 5 tahun.
Semangatnya
dalam menuntut ilmu tidak hanya berhenti belajar di Indonesia tetapi
dilanjutkan ke Mekkah untuk belajar dengan beberapa ulama terkenal seperti
Syekh Chatib al Minangkabawi, Syekh Mahfud Attirmasi, Syekh Syuaib bin
Abdurrahman, Syekh Said al Yamani, Sayid Sulthon Hasyim al Dagistani, Sayid
Abdullah al Zawawi, Sayid Alwi bin Ahmad Assegaf, Sayid Hussein Al Habsy.
Dari silsilah
dan mata rantai guru serta keilmuwan KH. Hasyim Asy’ari
tampak dia seorang mumpuni dibidang agama. Selain ahli dibidang agama KH.Hasyim
Asy’ari juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren serta strategi
pembelajaran. KH. Hasyim Asy’ari selain sebagai Kiai yang sangat memahami dengan dunia
pesantrem juga merupakan ulama yang produktif menuliskan gagasan-gagasan
pikirannya dalam bentuk tulisan. Diantara karya-karya beliau adalah : Adab al Alim wa Al Muta’alim, Ziyadad Ta’liqat, at Tambihat al Wajibat
Liman Yasna al Maulid al Munkarat, ar Risalat al Jami’at, an Nurul Mubin fi
Mahabbah Sayyid al Mursalin, Hasyiah ‘Ala Fat al Rahman, Al Dur al Muntasirah
fi Masail tis’i Asyrat, At Tibyan Finnahi ‘an Muqatitah al Ikhwan,ar Risalat at
Tauhidiyah. Al Qalait fil BayanMayajib min al ‘Aqait.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar