Makam kuna yang terdapat di Desa Dempel Kecamatan
Kalibawang selama ini dikunjungi banyak peziarah. Tidak terbatas orang-orang
Wonosobo maupun kota di Jateng. Tak sedikit pengunjung dari Banjarmasin dan
Lampung yang datang. Konon yang disemayamkan adalah tokoh terkenal bernama
Tumenggung Kerto Waseso atau disebut juga Mbah Lerik.
Seperti halnya tokoh-tokoh sakti masa lampau, Tumenggung
Kerto Waseso juga seorang pejuang pada zaman Pangeran Diponegoro. Menurut warga
setempat, ia masih keturunan bangsawan Keraton Jogja. Semasa perang melawan
penjajah Belanda, Mbah Lerik bergerilya hingga ke Wonosobo.
Kemudian membuka perkampungan di Desa Dempel. Tokoh ini
cukup disegani karena kesaktiannya yang luar biasa. Sampai meninggal pun,
makamnya banyak diziarahi orang. Sebagai tempat yang dianggap mujarab untuk
berdoa agar hajatnya terkabul.
Salah satu tokoh masyarakat setempat Muhrozi mengatakan,
sejak dulu makam Mbah Lerik tak pernah sepi peziarah. Hampir tiap hari mereka
datang, berdoa memohonkan apa yang menjadi keinginannya. “Selain dari Jawa
Tengah, Jawa Timur ada juga yang dari luar Jawa. Kadang ziarahnya sampai
berhari-hari. Di makam, mereka mengaji, membaca tahlil dan memanjatkan
doa,”ujarnya didamping anaknya Mahfudz.
Sepengetahuan Muhrozi tidak ada keanehan berasal dari
makam. Hanya saja, kalau doa hampir terkabul, muncul godaan-godaan. Dan itu
hanya dirasakan oleh yang bersangkutan. Peziarah lebih suka datang pada malam
hari. Lebih sunyi, doa lebih khusuk dan terasa dekat dengan Maha Pencipta,
begitu katanya.
Makam Mbah Lerik terletak di dekat kompleks kuburan desa.
Namun agak terpisah dari makam lain. Bangunan makam berupa papan kayu
sederhana. Warga setempat yang membangun cungkupnya. Jalan menuju makam tidak
terlalu lebar berupa semen.
Di sebelah makam, berupa tanah kosong yang rencananya akan
dibangun semacam peristirahatan untuk para peziarah. Mereka dapat menginap di
situ, memasak maupun mengurus keperluan sehari-hari. Tidak sedikit yang
menginap beberapa hari di makam. Bahkan pernah ada peziarah hampir sebulan
penuh berada di makam pada bulan puasa lalu.
Warga setempat semula tidak menaruh curiga dengan
kehadiran orang yang identitasnya tak diketahui secara pasti tersebut. Kepada
warga mengaku datang sendirian, anehnya kalau malam hari ada orang yang datang.
Masyarakat semakin curiga, setiap kali pergi ke pasar atau membeli keperluan ke
luar desa, mengenakan pakaian biasa dan selalu bertopi. Padahal sehari-hari
selama berada di makam, mengenakan surban. Apalagi waktu itu, terdengar santer
adanya teroris, akhirnya warga memutuskan bertindak. Sebelum dilakukan, pria
itu sudah kabur.
“Orang-orang dari Jawa Timur kalau berziarah sampai
berhari-hari. Mengaji dan berdoa di makam. Diharapkan dengan adanya semacam
fasilitas beristirahat ini mereka akan lebih nyaman di sini,”tambah Mahfudz.
Menjelang pilihan kepala desa, banyak para calon kades
yang berziarah. Bahkan para calon bupati pun tidak melewatkan diri mengunjungi
makam. Ditegaskan Muhrozi, para peziarah dilarang untuk menyembah atau memohon
pada makam. Berziarah hanya sebagai sarana. Tentu saja permohonan ditujukan
pada Sang Pencipta.
Potongan Rambut Timbulkan Gempa
Kesaktian Mbah Lerik sangat dikenal seantero Wonosobo kala
itu. Disebut Lerik, karena begitu lahir kulitnya seperti bayi. Tetapi layaknya
kulit anak 10 tahun. Menurut cerita, saat masih bermukim di Keraton Jogjakarta,
kesaktian Mbah Lerik diujicoba. Dia diminta bertempur dengan 7 orang prajurit
seorang diri. Dengan segala kesaktiannya, 7 prajurit bertekuk lutut.
Seluruh badannya mengandung tuah kesaktian. Ia memiliki
rambut panjang terurai dan konon berkuku sepanjang 2 meter. “Rambutnya tidak
mempan oleh gunting atau senjata tajam. Sehingga terus memanjang terurai. Dan
tidak ada yang berani memotongnya,”ungkap Muhrozi.
Masih menurut cerita Muhrozi, suatu kali, Mbah Lerik
diminta datang ke Kramatan, Magelang ke rumah salah satu anaknya. Rambut dan
kuku Mbah Lerik akan dipotong. Dengan segala daya upaya rambut dan kukunya
dapat dipangkas. Begitu potongan rambut jatuh ke tanah, menimbulkan gempa bumi
3 hari berturut-turut tanpa henti. Begitu juga saat potongan kukunya jatuh,
terdengar seperti bunyi linggis jatuh ke lantai semen, bergerincing sangat
keras. Potongan rambut dan kuku ini dikubur di Kramatan, Magelang.
Itu salah satu gambaran betapa sakti mandraguna Mbah
Lerik. Ilmu tinggi dan budi pekerti luhur yang membuatnya disegani. Setelah membuka
pedesaan Dempel, Mbah Lerik diangkat menjadi sesepuh. Ia memiliki 14 anak.
Sepuluh anak laki-laki dan 4 perempuan. Bahkan sampai sekarang, anak
keturunannya masih hidup di luar Kota Wonosobo.
Dikatakan Muhrozin, sebelum dirinya yang sering disebut juru
kunci makam adalah mendiang ayahnya, Abdul Rauf. Dulu setiap peziarah harus
melalui juru kunci. Sekarang, kata dia, terserah pendatang. Bisa langsung
berziarah ke makam atau juga melalui dirinya.
Untuk menelusuri secara pasti silsilah Mbah Lerik cukup
sulit. Menurut Untung, salah satu warga setempat, harus melakukan semedi dan
mengendapkan pikiran. Itupun tak hanya sekali atau dua kali. Sebab, harus
melakukan kontak batin dengan mendiang.
Dia sendiri ketika dimintai keterangan tentang Tumenggung
Kerto Waseso ini agak keberatan. “Sebenarnya harus meminta izin terlebih dulu
kepada Mbah Buyut (Kyai Lerik, red). Tanpa seizin beliau saya tidak
berani,”cetusnya.
Ketika ditanya kenapa Tumenggung Kerto Waseso dijuluki
Mbah Lerik, Untung berdiam diri sebentar. Lantas meminta maaf tidak bisa
menjelaskan lebih detil. Ia tak dizinkan untuk memberi keterangan lebih rinci.
Pria ini mengaku sekarang tengah dihukum selama 10 tahun oleh Mbah Lerik, tidak
dizinkan keluar dari desa. Sekarang hukuman tinggal setahun lagi. Selama itu
pula, hanya di rumah bertani. Tidak berani pergi ke desa lain maupun turun ke
kota.
Apabila makam Mbah Lerik akan dibangun agar lebih
representatif untuk peziarah, kata Untung juga harus meminta izin. Dia tidak
berani melanggar apapun yang telah menjadi kehendak sesepuh desa itu. (Sumber:lis
Jawa Pos)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar