Kota
Wonosobo berdiri konon berkat jasa tiga tokoh berpengaruh kala itu. Kiai
Kolodete, Kiai Karim dan Kiai Walik. Ketiganya merintis kawasan yang semula
hutan belantara menjadi pemukiman. Bersama sanak keluarga mereka bahu-membahu
membabat hutan, mengubah menjadi ladang pertanian. Masing-masing memiliki peran
yang berlainan. Kiai Walik sebagai perancang kota, Kiai Karim peletak
dasar-dasar pemerintahan. Sedangkan Kiai Kolodete membuka wilayah di kawasan
Dieng.
Kiai Walik dianggap paling dekat di hati rakyat. Figur
pemimpin yang merakyat, disukai sekaligus disegani pada zamannya. Namun ketiga
tokoh itu menjalin hubungan yang erat. Kiai Walik tinggal di kawasan Wonosobo.
Konon, sebelum meninggal dunia pada hari Kamis, Kiai Walik mengatakan bahwa di
tempat ditumbuhi pohon bambu kelak akan menjadi tempat luas. Menggambarkan
kewibawaan negara, juga menggambarkan perbuataan buruk manusia. Ternyata
ramalan tersebut ada benarnya. Kini di tempat yang ditunjuk Kiai Walik berdiri
masjid, alun-alun dan lembaga pemasyarakatan.
Diyakini masyarakat, makam tokoh terkenal itu berada di
belakang Masjid Al Manshur Kauman. Sebelumnya tidak diketahui bila di belakang
masjid terdapat makam Kiai Walik.
“Dulu hanya dipercaya sebagai pekaringan atau tempat berjemur para wali.
Kemudian KH Chabib Lutfi mengatakan kalau pekaringan itu adalah makam Kiai Walik. Itu
dikatakan tanggal 27 Juli 1996 lalu,”ujar iImam Masjid Al Manshur KH Haidar
Idris.
Banyak versi berkembang di masyarakat soal makam Kiai
Walik. Ada yang mengatakan makam Kiai Walik berada di dalam penjara kompleks
lembaga pemasyarakatan.
Karena dulu meninggal sewaktu ditahan kolonial Belanda.
Ditambahkan KH Chabib, banyak versi mengenai keberadaan Kiai Walik ini.
“Pernah ada orang dari Kasunanan Surakarta datang ke
masjid ini untuk salat. Dia cerita kalau mencari makam Kiai Wonosobo.
Diceritakan kalau di belakang masjid ada makam kuno. Dia lalu berziarah.
Katanya, yang dimakamkan tersebut adalah Kiai Wonosobo yang dicarinya
itu,”tambahnya.
KH Haidar pernah bertanya pada beberapa alim ulama nama
sebenarnya dari Kiai Walik itu. Dikatakan seorang ulama tafsir Surabaya Kiai
Walik bernama Abdul Kholiq. Sedangkan menurut KH Chabib Lutfi bernama Ustman
bin Yahya. Ada juga yang mengatakan Abdul Khaqam. Kiai Walik asli Yaman, datang
pertama kali ke Indonesia di Kudus di rumah Sunan Kudus. Setelah 4 tahun di
Kota Kretek, ia diajak Sunan Kalijaga berdakwah. Sunan Kalijaga ke Jawa Tengah
selatan, sampai di Mataram. Sedangkan Kiai Walik ke Wonosobo. Di situ ia
mendirikan masjid yang letaknya di sebelah selatan barat kota. Kini masjid
tersebut sudah tidak ditemukan lagi. Para peziarah dulu, tambahnya, banyak yang
datang sambil membawa makanan dan membakar kemenyan. Mereka meminta agar ziarah
yang dilakukan itu membawa berkah.
Peziarah membaca yasinan dilanjutkan berdoa. Selain dari
Wonosobo, para peziarah datang dari luar kota. Mereka meyakini berdoa di makam
tersebut akan mendatangkan berkah.
Setelah mengikuti pengajian tiap hari Sabtu di Masjid Al Manshur,
masyarakat berziarah ke makam Kiai Walik. Di masjid yang konon tertua di
Wonosobo itu memiliki tradisi pengajian tiap hari Sabtu, disebut setonan.
Jamaahnya setiap waktu terus bertambah. Masjid Al Manshur
selalu penuh sesak. Dalam satu kesempatan pengajian jamaahnya minimal 1500
orang. Selain itu, Masjid Al Manshur juga menjadi pathokan waktu salat. Banyak
orang datang untuk mencocokkan jam. Terdapat bencet atau jam matahari yang
menjadi pathokan waktu salat.
Masjid Al Manshur terdiri dari dua ruang besar. Memasuki
masjid tampak bangunan kuno dengan tiang-tiang kayu tinggi yang dihiasai
ukir-ukiran. Tidak ada kesan mewah, namun memasuki ruangan masjid, terasa adem,
sejuk dan nyaman. Di sebelah kanan bangunan utama masjid, berderet ruang-ruang
kelas sekolah dan pondok pesantren.
Di halamannya yang luas dibangun lapangan basket. Banyak
orang mengakui masuk ke masjid akan terasa dingin, dan tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar